08 Feb

Ahok Si Ikan Salmon

JAKARTA- Sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (46) sebagai Wakil Gubernur Jakarta kian menjadi sorotan. Mendampingi Jokowi yang selalu bertutur kata kalem, Ahok tampil tegas dan keras. Sifat Ahok ini rupanya bawaan sejak kecil.

Ahok lahir sebagai sulung di Manggar pada 29 Juni 1966. Sang ayah, Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama, adalah seorang kontraktor dan Pengusaha PT Timah. Zaman dahulu, pekerjaan Kim Nam itu disebut sebagai pemborong. Ibunya, Nen Bun Caw alias Buniarti Ningsih (66), adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Gantung, kampung kecil di bagian timur Pulau Belitung itu adalah pusat kehidupan Kim Nam dan Buniarti. Di sanalah kelima anak mereka lahir: Ahok, Basuri, Fifi Lety, Harry Basuki, dan Basu Panca Fransetio Tjahaja Purnama. Basu meninggal dunia di usia 12 tahun akibat kecelakaan lalu lintas.

Selain memiliki pandangan jauh ke depan, Kim Nam juga seorang yang sangat berjiwa sosial. Melihat kampung Gantung tak punya dokter, mulanya ia meminta Ahok menjadi pelayan kesehatan agar bisa membantu rakyat miskin berobat.

“Ahok menolak. Baru seminggu dia sekolah kedokteran di Universitas Kristen Indonesia, keluar,” kenang Buniarti. Titah menjadi dokter inilah yang kemudian dijalani Basuri.

Hati yang Polos
Beranjak remaja, Ahok menjadi sosok pengganti orangtua untuk adik-adiknya di Jakarta. Diberi tanggung jawab begitu besar untuk menjaga adik-adiknya, Ahok berlaku keras dan disiplin. “Tapi di balik sifat kerasnya, Abang itu sangat perhatian,” aku Basuri.

Basuri mengenang, suatu hari ia tertahan di sekolah karena hujan turun dengan derasnya. Ahok yang sudah terlebih dahulu pulang, kembali lagi ke sekolah untuk menjemput sang adik.

Kepada sang Bunda, Ahok juga pernah berbagi cerita. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA dan melihat sebuah gerai makanan cepat saji baru dibuka di kawasan Pasar Baru. “Dia lihat di depan toko itu ada tukang semir sepatu ngintip-ngintip . Mungkin ingin beli ayam goreng tapi tak punya uang,” kisah Buniarti.

Ia lantas masuk ke dalam toko dan membeli beberapa kotak makanan cepat saji itu untuk diberikannya kepada si tukang semir. “Kata Ahok, ‘Ma, dia senang sekali. Langsung dibawa pulang, mungkin mau dimakan sama Mamanya di rumah.’ Entah apakah Ahok ingat, tapi cerita ini membekas buat saya,” ujar Buniarti lagi.

Lulus dari SMA PSKD III Jakarta, Ahok berniat menuruti keinginan sang ayah, menjadi dokter. selanjutnya, ia pun diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Namun Ahok hanya tahan seminggu menjalani kuliah kedokteran. Ia kabur dan pindah kuliah ke Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti.

“Papanya marah sekali,” ingat Buniarti Ningsih (66), ibunda Ahok. (Alm.) Indra Tjahaja Purnama atau Zhong Kim Nam, sang ayah, sampai mengancam tak mau memberi uang sumbangan ke universitas saat Ahok lulus kuliah nanti. “Untungnya saat lulus uang sumbangannya tak terlalu banyak, jadi tetap dikasih juga oleh Papanya,” tutur Buniarti sambil tersenyum.

Toh, restu untuk tidak menjadi dokter itu pun akhirnya turun juga. Sang ayah ternyata juga legawa saat Ahok kemudian memilih melanjutkan kuliah S2 di bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya, Jakarta. Untuk beberapa saat, Ahok bekerja di PT Simaxindo Primadaya yang bergerak di bidang kontraktor pembangunan listrik.


Sempat Frustasi
Tahun 1995, Ahok membangun pabrik pengolahan pasir kuarsa pertama di Pulau Belitung. “Ahok vokal terhadap manipulasi yang dilakukan oknum-oknum pejabat dan kontraktor, kami sering sekali dikerjai hingga mengalami kesulitan keuangan,” lanjut Ahok.

Keadaan sulit ini sempat membuat Ahok frustasi dan berpikir untuk pindah ke luar negeri dan mencari kerja di sana. Namun Kim Nam mencegah. “Kamu tak boleh pergi karena rakyat miskin membutuhkan kamu,” begitu ujar sang ayah.

Menjadi kaum minoritas dan mengalami tindakan diskriminasi sesungguhnya sudah akrab dialami Ahok sejak kecil. Dulu, saat bersekolah di SD Gantung, Ahok pernah ditolak menjadi anggota pengibar bendera merah-putih lantaran warna kulitnya. Saat mengadukan hal ini kepada sang ayah, Kim Nam kembali berkata bijak. “Sabar. Akan ada waktunya orang menerima kita,” ujarnya.

Isu yang berkaitan dengan ras semacam ini semakin keras diembuskan setelah Ahok memutuskan masuk dunia politik di tahun 2003. Persoalan ini pula yang pada awalnya membuat sang bunda Buniarti tak setuju putra sulungnya jadi politisi. “Di politik, kan, banyak musuh,” alasannya.

Namun kemudian Ahok mendatanginya. “Dia bilang sama saya, ‘Mama enggak boleh egois. Kalau Mama tak punya uang, bisa saja pindah ke Jakarta ikut anaknya. Tapi kalau saudara-saudara di kampung tak punya uang karena PT Timah tutup, mereka mau makan apa?’ Setelah saya pikirkan, ucapannya masuk akal,” tutur Buniarti. Sejak itu ia menyadari, “Tujuan anak saya terjun ke politik adalah untuk menolong masyarakat.”

Akan tetapi, pemicu Ahok masuk dunia politik, sebut Ahok dalam bukunya, tak lain adalah perkataan ayahnya. Saat Kim Nam sakit, Ahok berkisah, sang ayah mengingatkan betapa jalanan di kampung mereka sangat buruk sehingga banyak rakyat meninggal akibat diharuskan menempuh jalan buruk itu untuk berobat ke ibu kota.

Kim Nam kemudian mengingatkan anak-anaknya pada sebuah pepatah Tionghoa kuno yang berbunyi, “Orang miskin jangan melawan orang kaya. Orang kaya jangan melawan penguasa.” Maka, pikir Ahok, untuk melawan penguasa yang korup, ia harus menjadi bagian dari penguasa. Kata-kata Kim Nam rupanya bertaji. Pada tahun 2005, Ahok pun terpilih menjadi Bupati Belitung Timur.

Tokoh Anti Korupsi
Saat menjabat sebagai Bupati Belitung Timur, tak seharipun dilewatkan Ahok tanpa bertatap muka langsung dengan rakyatnya. bahkan tak segan ia ikut turun membantu.


Amanah Kim Nam untuk membangun jalan bagus di Belitung Timur pun dilakoni Ahok. Kini, jalan-jalan yang menghubungkan setiap desa di Belitung Timur sudah teraspal bagus. Program lain yang dirintis Ahok adalah pendidikan dasar gratis dan pembangunan rumah ibadah masjid. Ahok pun berhasil mematahkan berbagai kecaman miring bernada SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) di awal karier politiknya.

Kepimpinan Ahok sebagai Bupati Belitung Timur berlangsung singkat, hanya setahun. Namun dalam tempo yang singkat ini telah melambungkan namanya sebagai pejabat yang terkenal bersih. Tahun 2006, ia lalu dinobatkan sebagai satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia oleh Majalah Tempo. Setahun kemudian, ia ditetapkan sebagai Tokoh Anti Korupsi oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia.

Pada 11 Desember 2006, ia mengundurkan diri dari jabatan Bupati Belitung Timur untuk bertarung menjadi calon Gubernur Bangka Belitung. Sayang, akibat adanya dugaan kecurangan penghitungan suara, Ahok kalah.

Sebagai pengganti untuk melanjutkan pembangunan di Belitung Timur Ahok berkali-kali memaksa sang adik, Basuri, untuk maju ikut pilkada. “Awalnya saya menolak, tapi lewat perjuangan panjang dan meyakinkan diri bahwa ini adalah amanah Tuhan, saya bersedia,’ kata Basuri.

Lantas, bagaimana komentar Ahok setelah Basuri berhasil memenangi pilkada dengan bersih dan transparan? “Datar-datar saja responsnya. Mungkin jaim (jaga image , Red. ), ha ha ha,” tukas Basuri lagi.

Tak Alpa Baca Alkitab
Kini, kegiatan Buniarti setelah putra sulungnya menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, ikut bertambah. Seiring dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Pulau Belitung, “Banyak juga yang datang berkunjung ke rumah, mau bertemu Mamanya Ahok kata mereka,” ujar Buniarti sambil tertawa.

Jika tik sedang beristirahat, Buniarti dengan senang hati menerima para tamu untuk mengobrol dan berfoto. “Banyak juga yang ingin melihat foto Pak Ahok sewaktu masih kecil. Ya, saya keluarkan koleksi album saya.”

Kadang-kadang, ia juga memberi komentar kepada Ahok jika ada pemberitaan negatif tentangnya. Misalnya, saat Ahok marah-marah di dalam rapat. “Ahok bukannya mau marah-marah, dia itu gemas kalau melihat ada yang salah. Dia pikir dengan marah-marah bisa mengubah orang menjadi benar,” bela Buniarti.

Pandangan Basuri lain lagi. Sama-sama menjadi pemimpin daerah, Basuri mengaku bisa memahami tindakan Ahok mengunggah berbagai rapat ke kanal YouTube. “Sebagai pemimpin, kami ingin bekerja setransparan mungkin. Jadi kalau kami benar, publik juga mendukung. Kalau sudah ada dukungan publik, oknum yang ingin berbuat curang jadi tak berani,” ujar bapak tiga anak ini.

Bagaimana pun, dukungan Buniarti dan Basuri serta keluarga selalu menyertai Ahok. Ahok pun, menurut Buniarti, tak pernah alpa membaca alkitab setiap jam 04.00 pagi. “Dengan begitu, setiap hari dia jalani dengan yakin bahwa dia melakukan sesuatu yang benar,” ujarnya.

“Ahok adalah kebanggaan keluarga juga kebanggaan masyarakat Belitung,” sebut Basuri. Ia lantas mengibaratkan Ahok seperti ikan salmon. “Dia berenang melawan arus untuk bertelur dan mencetak generasi baru. Biarlah Ahok menulis sejarah dirinya. Benar atau salah, masyarakat lah yang nanti akan menilainya.”